Partai Aceh sebagai Pemenang Pemilu Legislatif 2009 di Aceh kini menjadi incaran Capres peserta Pilpres 2009. Karena dukungan Partai Aceh atau PA dinilai amat menentukan kemenangan Capres tertentu di Aceh. Tapi, ternyata PA tidak memihak kepada Capres manapun. Diduga sikap tersebut diambil oleh elit PA, karena dua dari Capres merupakan inisiator perdamaian Aceh, yakni SBY dan JK.
Untuk mengetahui bagaimana sikap Partai Acehterhadap para Capres peserta Pilpres 2009, tabloid Peuneugah Aceh mewawancarai juru Bicara Partai Aceh, Andan Beuransah, melalui telpon selular, 10 Juni 2009. Berikut petikannya :
Kabarnya, Partai Aceh tidak mendukung secara resmi terhadap Capres tertentu, benarkah ?
Pada dasarnya pimpinan dari PA tidak mengambil satu kesimpulan tentang hal tersebut, tapi kami secara institusi tetap berkomitmen pada posisi netral. Artinya, tidak memihak kepada siapapun, dalam hal ini kita serahkan kepada rakyat. Maka rakyatlah yang berhak memilh yang sesuai dengan suara hatinya, dan keputusan rakyatlah yang harus kita hormati.
Apakah sikap PA yang demikian itu lebih kepada untuk menjaga ‘hubungan’ yang sudah terbina selama ini, antara elit GAM/KPA dengan SBY dan JK sebagai inisiator perdamaian Aceh, atau karna adanya ‘perpecahan dukungan’ dari elit PA terhadap SBY dan JK?
Disini kami melihat mereka berdua (SBY dan JK) itu merupakan tokoh perdamaian untuk Aceh, jadi sama-sama kita lihat, dan kami mengambil sikap yang lebih bijak untuk menghindari hal-hal yang tidak berkenan untuk Aceh kedepan.
Ada yang menilai bahwa selama ini elit PA lebih intensif berkomunikasi dengan JK dari pada SBY. Komentar anda?
Dalam konteks perdamaian, siapa saja akan kita lakukan koordinasi dan komunikasi, sehingga masalah-masalah yang ada dilapangan dapat kita selesaikan dengan baik.
Kabarnya ‘kedekatan’ sebagian elit PA melihat JK-nya, bukan Golkarnya?
Kita lihat dalam konteks perdamaian Aceh ini, ada saling berhubungan, jadi antara SBY dan JK adalah merupakan tenaga dalam satu kesatuan, jika sa’at SBY terlalu padat agenda kerja, maka diminta JK . Jadi mereka tidak lepas disini, mereka ikut andil dalam proses lahirnya perdamaian di Aceh.
Ada yang menilai bahwa di tingkat elit PA selama ini masih ada dua faksi IRNA dan H2O. Dan hal itu tidak hanya tercermin dari dukungan terhadap SBY dan JK, tapi sebagian calon Legislatif dari PA yang terpilih, itu juga terdiri dari dua faksi tersebut?
Dalam konteks Partai kita tidak mengenal tentang adanya faksi-faksi tersebut, yang ada adalah faksi Partai Aceh. Jadi tidak ada perbedaan-perbedaan dalam Partai, kita bersatu dalam Partai. Bahwa alam demokrasi ini terjadi perbedaan pandangan, ini suatu hal yang lumrah.
(Adnan Beuransah memberi contoh) “Lagèë aweuk ngen beulangöng meu kr’éh, njan hai biasa, asal jangan beukah beulangöng”.
Jadi kita sepakat membangun persepsi bagaimana kita memajukan Partai ini, bagaimana kita mempertahankan kemenangan partai pada saat ini. Jadi kedepan, kita berharap pada tahun 2014 dapat meraih kira-kira 95%. Persepsi kita adalah persatuan untuk membangun Aceh kedepan, Aceh yang bermartabat, Aceh yang maju, Modern dan Aceh yang memiliki tingkat kesejahteraan rakyat yang lebih tingggi.
Bagaimana PA melihat terhadap Capres Megawati dan Pasangannya, Prabowo?
Hari ini Partai Aceh tidak melihat kepada pribadi-pribadi itu, yang jelas siapa saja yang jadi presiden nanti, persoalan Aceh itu merupakan kewajiaban bagi mereka untuk melanjutkan perdamaian di Aceh. Kami melihat disini institusi Negara, kami melihat perdamaian bukan pribadi SBY dan JK, tapi merupakan antara Republik Indonesia dan GAM, bukan pribadi.
Apa harapan PA terhadap rakyat Aceh dalam Pilpres 2009?
Supaya rakyat Aceh dapat member suara atau memilih calon presiden yang terbaik.
Dalam menentukan pilihannya pada Pilpres, sebaiknya rakyat Aceh lebih mementingkan kepentingan politk atau membalas jasa orang lain?
Persoalan balas jasa persoalan lain, justru dalam konteks politik, supaya menjadi rahmat bagi rakyat kedepan, agar suasana perpolitikan di Aceh lebih baik, seperti yang diharapkan rakyat Aceh.[Igadeg|Uly]
[dikutip dari Peneugah Aceh edisi IX 14-21 Juni Tahun 2009]
Kabarnya, Partai Aceh tidak mendukung secara resmi terhadap Capres tertentu, benarkah ?
Pada dasarnya pimpinan dari PA tidak mengambil satu kesimpulan tentang hal tersebut, tapi kami secara institusi tetap berkomitmen pada posisi netral. Artinya, tidak memihak kepada siapapun, dalam hal ini kita serahkan kepada rakyat. Maka rakyatlah yang berhak memilh yang sesuai dengan suara hatinya, dan keputusan rakyatlah yang harus kita hormati.
Apakah sikap PA yang demikian itu lebih kepada untuk menjaga ‘hubungan’ yang sudah terbina selama ini, antara elit GAM/KPA dengan SBY dan JK sebagai inisiator perdamaian Aceh, atau karna adanya ‘perpecahan dukungan’ dari elit PA terhadap SBY dan JK?
Disini kami melihat mereka berdua (SBY dan JK) itu merupakan tokoh perdamaian untuk Aceh, jadi sama-sama kita lihat, dan kami mengambil sikap yang lebih bijak untuk menghindari hal-hal yang tidak berkenan untuk Aceh kedepan.
Ada yang menilai bahwa selama ini elit PA lebih intensif berkomunikasi dengan JK dari pada SBY. Komentar anda?
Dalam konteks perdamaian, siapa saja akan kita lakukan koordinasi dan komunikasi, sehingga masalah-masalah yang ada dilapangan dapat kita selesaikan dengan baik.
Kabarnya ‘kedekatan’ sebagian elit PA melihat JK-nya, bukan Golkarnya?
Kita lihat dalam konteks perdamaian Aceh ini, ada saling berhubungan, jadi antara SBY dan JK adalah merupakan tenaga dalam satu kesatuan, jika sa’at SBY terlalu padat agenda kerja, maka diminta JK . Jadi mereka tidak lepas disini, mereka ikut andil dalam proses lahirnya perdamaian di Aceh.
Ada yang menilai bahwa di tingkat elit PA selama ini masih ada dua faksi IRNA dan H2O. Dan hal itu tidak hanya tercermin dari dukungan terhadap SBY dan JK, tapi sebagian calon Legislatif dari PA yang terpilih, itu juga terdiri dari dua faksi tersebut?
Dalam konteks Partai kita tidak mengenal tentang adanya faksi-faksi tersebut, yang ada adalah faksi Partai Aceh. Jadi tidak ada perbedaan-perbedaan dalam Partai, kita bersatu dalam Partai. Bahwa alam demokrasi ini terjadi perbedaan pandangan, ini suatu hal yang lumrah.
(Adnan Beuransah memberi contoh) “Lagèë aweuk ngen beulangöng meu kr’éh, njan hai biasa, asal jangan beukah beulangöng”.
Jadi kita sepakat membangun persepsi bagaimana kita memajukan Partai ini, bagaimana kita mempertahankan kemenangan partai pada saat ini. Jadi kedepan, kita berharap pada tahun 2014 dapat meraih kira-kira 95%. Persepsi kita adalah persatuan untuk membangun Aceh kedepan, Aceh yang bermartabat, Aceh yang maju, Modern dan Aceh yang memiliki tingkat kesejahteraan rakyat yang lebih tingggi.
Bagaimana PA melihat terhadap Capres Megawati dan Pasangannya, Prabowo?
Hari ini Partai Aceh tidak melihat kepada pribadi-pribadi itu, yang jelas siapa saja yang jadi presiden nanti, persoalan Aceh itu merupakan kewajiaban bagi mereka untuk melanjutkan perdamaian di Aceh. Kami melihat disini institusi Negara, kami melihat perdamaian bukan pribadi SBY dan JK, tapi merupakan antara Republik Indonesia dan GAM, bukan pribadi.
Apa harapan PA terhadap rakyat Aceh dalam Pilpres 2009?
Supaya rakyat Aceh dapat member suara atau memilih calon presiden yang terbaik.
Dalam menentukan pilihannya pada Pilpres, sebaiknya rakyat Aceh lebih mementingkan kepentingan politk atau membalas jasa orang lain?
Persoalan balas jasa persoalan lain, justru dalam konteks politik, supaya menjadi rahmat bagi rakyat kedepan, agar suasana perpolitikan di Aceh lebih baik, seperti yang diharapkan rakyat Aceh.[Igadeg|Uly]
[dikutip dari Peneugah Aceh edisi IX 14-21 Juni Tahun 2009]
No comments:
Post a Comment